Sejak mulai dirilis di Indonesia awal 2019 lalu, Halaman Facebook/Fanpage yang bisa dimonetisasi langsung menyita perhatian para konten kreator.

Ada beberapa alasan mengapa para konten kreator ini melirik Fanpage Facebook. Pertama, Facebook membuka peluang bagi yang telah memenuhi syarat monetisasi (antara lain : telah memiliki 10 ribu pengikut, 30 ribu jumlah tayang, usia halaman lebih dari 30 hari ), untuk dapat menampilkan jeda iklan atau Adsbreak yang tentu saja bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang menggiurkan.

Namun diawal rilisnya, Facebook masih terkesan memberikan kelonggaran kepada para konten kreator halaman untuk mengunggah video tanpa memperhatikan panduan atau peraturan yang telah dibuat pihak Facebook sendiri, terutama soal orisinilitas konten. Bisa dimaklumi memang, algoritma Facebook belum bekerja optimum karena baru terhitung bulan Adsbreak Facebook dirilis di Indonesia. Maka banyak dari konten kreator bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan dolar setiap bulannya, hanya dari re-addContent konten Youtube tanpa terkena pelanggaran hak cipta.

Seiring berjalannya waktu, kini Facebook mulai bersih-bersih halaman yang dinilai melakukan pelanggaran ringan hingga berat. Tak heran, di beberapa grup konten kreator Adsbreak mulai terjadi keluhan, seperti halaman mereka tiba-tiba mengalami dismonetize (digagalkan monetisasinya), hingga halaman yang tiba-tiba dihapus oleh pihak Facebook.

Mari kita analisis mengapa terjadi keluhan dismonetize atau gagal monetisasi, yang dapat dilihat pada dashboard creator studio pada bagian kelayakan halaman.

Berikut 5 cara menghindari dismonetize bagi kamu yang akan terjun sebagai konten kreator Halaman Facebook.

1. Pengikut halaman palsu

Apa maksudnya? bagi pemula yang baru membuat halaman Facebook, salah satu syarat monetisasi adalah memiliki jumlah pengikut sebanyak 10 ribu. Sebagai pemula terkadang ketidaksabaran membuat kamu mengambil jalan pintas bukan? hindari membeli pengikut palsu dari situs manapun, karena tetap akan terdeteksi sebagai boot, dan halaman kamu akan sia-sia karena tidak akan dapat dimonetisasi walau telah memiliki jumlah pengikut besar.

Apa solusi cepatnya? jika ada dana lebih, sebaiknya beriklanlah di Facebook untuk mempromosikan halaman milik kamu. Agar tidak terkena biaya mahal untuk harga perlikenya, kamu wajib menggunakan trik ngiklan mendapatakan “Like” cara murah yang banyak tutorialnya di Youtube.

2. Hindari membagikan video secara beruntun ke grup-grup

Hindari cara tak auntentik ini, yakni membagikan video halaman kamu secara beruntun ke grup-grup untuk mengejar jumlah 30 ribu tayang sebagai syarat monetisasi halaman Facebook.

Terlalu sering membagikan video kamu, apalagi menggunakan akun Facebook kamu yang juga sebagai admin utama, akan berdampak kelayakan halaman menjadi merah. Facebook mengutamakan pengunjung atau penonton organik, bukan interaksi yang ‘dipaksakan” lewat membagikan video ke berbagai grup.

Apa solusinya? Facebook memberikan fasilitas bagi semua halaman untuk membuat grup sendiri dengan halaman milik kamu sebagai adminnya (lihat contoh gambar dibawah)

Gunakan fasilitas ini untuk membagikan video-video kamu pada grup dimana halaman kamu sebagai adminnya. Atau jika kamu masih tak sabar, jika ada anggaran lebih kamu bisa mempromosikan video kamu, tentu dengan harga murah pertayangnya dengan mencari tutorialnya di youtube.

three. Hindari re-upload video tanpa proses edit sama sekali

Memposting video di halaman milik kita yang merupakan hasil unggahan dari youtube adalah merupakan pelanggaran hak cipta. Tetaplah menjadi konten kreator unique video agar kamu belajar menghargai karya milik orang lain.

Namun kalau dilihat, hampir mayoritas video di halaman Facebook adalah hasil reupload atau comotan dari Youtube. Pertanyaannya mengapa pihak Facebook tidak melihatnya sebagai pelanggaran hak cipta? mari kita ulas.

Pertama, video tersebut sudah melalui proses modifying yang baik, seperti memberi bingkai pada sisi-sisi layarnya.

Kedua, menghilangkan Watermark pada video tersebut. Ketiga, adalah mengganti backsound pada video, dan menggunakan backsound bebas hak cipta yang dapat kamu obtain pada bagian creator studio.

Apakah tetap beresiko dismonetize? bisa iya, bisa tidak tergantung video mana yang kamu comot dari Youtube. Sebaiknya jangan mencomot video dari luar negeri seperti kompilasi prank atau tutorial berbahasa Inggris, karena biasanya video-video tersebut sudah mendapatkan hak cipta penuh dari Youtube.

Demikian three cara menghindari dismonetize pada halaman adsbreak Facebook, semoga bermanfaat. Tetap berkarya, dan tetap menyajikan video-video yang orisinil.